Perkuat Pendidikan Demokrasi: Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Jalin Kerjasama Strategis dengan Bawaslu Jatim

Perkuat Pendidikan Demokrasi: Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Jalin Kerjasama Strategis dengan Bawaslu Jatim

Malang, 14 Oktober 2025 Sebagai bagian dari komitmen dalam memperkuat pendidikan politik dan literasi demokrasi, Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Malang.Penandatanganan tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Seminar Demokrasi bertema “Pendidikan Demokrasi dan Tantangan Disrupsi” di Aula GKB IV UMM. Penandatanganan MoU ini menandai dimulainya kerja sama strategis antara dunia akademik dan lembaga negara dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi partisipatif. Fokus utama kerja sama meliputi pengembangan riset politik elektoral, pengawasan partisipatif mahasiswa, serta pelatihan pendidikan demokrasi dan etika publik. Dalam sambutannya, Muhammad Kamil, S.IP., M.A., Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari visi prodi untuk memperluas jaringan akademik sekaligus menjembatani ruang refleksi teoritis dengan praktik lapangan.
“MoU ini tidak hanya simbolik, tetapi merupakan bentuk kolaborasi konkret antara kampus dan lembaga negara dalam mengembangkan literasi demokrasi yang berbasis riset dan data,” ujarnya. Beliau menambahkan bahwa kegiatan ini juga merupakan inisiasi langsung dari Prodi Ilmu Pemerintahan yang berangkat dari kegelisahan akademik terhadap menurunnya partisipasi politik masyarakat dan mahasiswa. A. Warits, S.Sos., Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Timur, menyambut baik kerja sama ini sebagai langkah strategis untuk membangun generasi pengawas pemilu yang berintegritas. “Kampus adalah ruang paling potensial untuk menumbuhkan kesadaran politik yang rasional. Mahasiswa harus menjadi mitra kritis dalam menjaga demokrasi yang sehat,” ujarnya. Mohammad Wahyudi, SE., M.Sos., Ketua Bawaslu Kabupaten Malang, menambahkan bahwa kerja sama ini juga mencakup kegiatan edukasi publik dan pengawasan berbasis masyarakat. “Kami berharap mahasiswa Ilmu Pemerintahan dapat menjadi agen perubahan yang membawa semangat anti-hoaks, anti-politik uang, dan menjunjung tinggi nilai integritas,” jelasnya. Penandatanganan MoU disaksikan oleh Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., Dekan FISIP UMM, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap Prodi Ilmu Pemerintahan atas inisiatif dan konsistensinya dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi di lingkungan kampus.
Kerja sama ini diharapkan menjadi pondasi kuat bagi pengembangan pendidikan politik berbasis riset, kolaborasi, dan partisipasi aktif mahasiswa, sejalan dengan semangat UMM sebagai Center of Excellence for the Future Leaders.

Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Bersama Bawaslu Gelar Seminar Demokrasi: Wujudkan Generasi Kritis dan Berintegritas

Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Bersama Bawaslu Gelar Seminar Demokrasi: Wujudkan Generasi Kritis dan Berintegritas

Malang, 14 Oktober 2025 Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan Seminar Demokrasi bertema “Pendidikan Demokrasi dan Tantangan Disrupsi: Menyiapkan Warga Negara Kritis, Cerdas, dan Tangguh.”
Kegiatan yang bertempat di Aula GKB IV ini menghadirkan dua narasumber, yaitu A. Warits, S.Sos. (Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Timur) dan Mohammad Wahyudi, SE., M.Sos. (Ketua Bawaslu Kabupaten Malang), serta dimoderatori oleh Iradhad Taqwa Shihidi, M.A., dosen Prodi Ilmu Pemerintahan UMM. Dalam sambutannya, Muhammad Kamil, S.IP., M.A., Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif dari prodi dan para dosen yang memiliki kegelisahan akademik terhadap perkembangan demokrasi, baik secara prosedural maupun substansial.
“Mahasiswa merupakan kelompok penekan (pressure group) yang memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan publik. Demokrasi tidak hanya berhenti pada pemilu, melainkan juga pada kemampuan rakyat, terutama generasi muda, untuk mengontrol kekuasaan,” ungkapnya. Beliau menyoroti rendahnya tingkat partisipasi pemilih pemula di Kota Malang yang masih di bawah 50 persen, sebagai refleksi perlunya pendidikan demokrasi yang lebih intensif di lingkungan akademik. Sementara itu, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., selaku Dekan FISIP UMM, dalam sambutannya menyoroti fenomena era disrupsi yang telah mengubah tatanan sosial, politik, dan komunikasi masyarakat secara cepat dan tidak terduga. “Mahasiswa adalah jantung dari demokrasi kampus. Di tengah arus digital, mereka harus tetap tangguh, kritis, dan mampu menerima perbedaan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya menanamkan pendidikan Pancasila yang cerdas dan kritis sebagai basis moral dan intelektual dalam menghadapi perubahan zaman. Dalam sesi pemaparan, A. Warits, S.Sos. menyoroti pentingnya literasi politik di tengah derasnya arus informasi digital. Beliau menegaskan bahwa pendidikan politik harus menempatkan warga negara, termasuk mahasiswa, sebagai subjek aktif dalam proses demokrasi. “Bawaslu Jawa Timur telah mengumpulkan hampir dua juta data pengawasan pemilu melalui Rumah Data, dan ini bisa menjadi bahan refleksi bagi kampus untuk mengembangkan literasi politik berbasis data,” jelasnya. Beliau juga menekankan bahwa mahasiswa perlu berperan sebagai agen literasi kritis, produsen gagasan sosial, katalisator etika publik, serta influencer positif dalam ruang digital. Narasumber kedua, Mohammad Wahyudi, SE., M.Sos., menguraikan tiga tugas pokok Bawaslu yaitu edukasi politik, pengawasan terhadap KPU, dan advokasi terhadap peserta pemilu. Ia menegaskan pentingnya media sosial sebagai sarana edukasi publik untuk melawan hoaks dan politik uang. “Tantangan demokrasi tidak akan hilang, tetapi dengan warga negara yang kritis dan berintegritas, tantangan itu bisa dihadapi secara bijak,” ujarnya. Sesi tanya jawab diwarnai antusiasme mahasiswa dengan sejumlah pertanyaan reflektif. Aldy F. mempertanyakan “bagaimana peran dosen dan kampus dalam memengaruhi kesadaran demokrasi mahasiswa?”
Sementara Hanum menyinggung kasus pemilu di Malaysia yang seluruh hasilnya dinyatakan tidak sah, sebagai bahan diskusi mengenai integritas pemilu. Aldi K. bertanya tentang degradasi pembelajaran di tengah teknologi yang semakin canggih, dan Raka menyoroti kualitas sumber daya manusia (SDM) pemimpin di Indonesia yang masih rendah. Menanggapi hal tersebut, A. Warits menekankan bahwa politik di Indonesia masih dipengaruhi oleh sistem feodal dan hegemoni kekuasaan, sementara Iradhad Taqwa Shihidi menambahkan refleksi bahwa “sejarah telah membuktikan bahwa kita hidup di era yang tidak selalu mudah untuk bersuara, sehingga mahasiswa harus menjaga daya kritisnya agar demokrasi tetap hidup secara substansial.”Acara ditutup dengan harapan agar kegiatan ini tidak hanya menjadi diskusi konseptual, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran politik yang mendorong mahasiswa berpikir reflektif dan bertindak etis dalam mengawal demokrasi Indonesia.