Workshop Desa Ramah Perempuan dan Anak, Prodi IP UMM Hadirkan Praktisi Pemberdayaan dari Akar Rumput

Workshop Desa Ramah Perempuan dan Anak di Prodi IP UMM Hadirkan Praktisi Pemberdayaan dari Akar Rumput

Malang, 08 Juni 2026 Prodi Ilmu Pemerintahan UMM menyelenggarakan workshop bertajuk “Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Komunitas dalam Pemberdayaan Perempuan dan Anak untuk Mewujudkan Desa/Kelurahan Ramah Perempuan dan Anak.” Kegiatan ini menghadirkan Ketua TP PKK Desa Sumbergondo, Qurotul Azizah, S.Pd., M.Pd., serta praktisi pemberdayaan masyarakat Abdus Salam, S.Sos., M.Si. dosen Prodi Sosiologi dimoderatori oleh dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Ach. Apriyanto Romadhan, S.IP., M.Si. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., menekankan pentingnya mempersiapkan masa depan melalui pembangunan desa yang ramah bagi perempuan, anak, dan lansia. Menurutnya, kebijakan yang disusun oleh pemerintah desa harus berangkat dari kondisi nyata dan kebutuhan masyarakat di lapangan.”Harapan masa depan harus diwujudkan melalui aksi nyata yang dimulai dari lingkungan terdekat kita,” ujar Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si. Pada sesi pertama, Qurotul Azizah, S.Pd., M.Pd. membagikan pengalaman praktik pemberdayaan masyarakat dan penanganan berbagai persoalan sosial yang dihadapi perempuan dan anak. Ia menjelaskan bahwa pemberdayaan membutuhkan kepedulian, pendampingan, serta kemampuan memahami kebutuhan masyarakat secara langsung. Salah satu inovasi yang dikembangkannya adalah Omah Ayom, sebuah program pemberdayaan berbasis pertanian yang ditujukan bagi masyarakat dengan keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi. Melalui program tersebut, masyarakat diberikan kesempatan untuk mengelola lahan pertanian dengan sistem pendampingan dan bagi hasil guna meningkatkan kesejahteraan keluarga.”Jika kita mendedikasikan diri menjadi pegiat sosial, maka letakkan ego sosial tanpa memandang strata sosial,” ungkap Qurotul Azizah, S.Pd., M.Pd. Sementara itu, Abdus Salam, S.Sos., M.Si. memaparkan pentingnya pemberdayaan berbasis potensi lokal, modal sosial, dan partisipasi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan.”Pemberdayaan bukanlah proyek instan, melainkan proses yang harus dijalankan secara partisipatif dan berkelanjutan,” jelas Abdus Salam, S.Sos., M.Si.