Fenomena Quiet Ambition ASN Menguat, Ali Roziqin, M.PA. Soroti Risiko Jabatan Struktural

Malang,30 Maret 2026 Fenomena quiet ambition atau menurunnya minat Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menduduki jabatan struktural menjadi perhatian publik. Isu ini mengemuka setelah Wali Kota Batu menyinggungnya dalam apel pagi di Balai Kota Among Tani, Senin 30 Maret 2026. Menanggapi hal tersebut, Kaprodi Ilmu Pemerintahan UMM, Ali Roziqin, M.PA., menilai bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh pergeseran cara pandang ASN terhadap jabatan yang kini dianggap lebih berisiko daripada prestisius. Menurutnya, ASN generasi X dan Y cenderung menghindari jabatan strategis karena meningkatnya beban tanggung jawab dan risiko pekerjaan. “Munculnya fenomena ini tidak lain karena kondisi mentalitas ASN generasi X dan Y yang menganggap jabatan struktural akan menambah tanggung jawab dan risiko pekerjaan. Ada ketakutan terhadap sistem yang patologis, terutama bagi mereka yang lebih menginginkan pola kerja slow working,” ujarnya. Beliau juga menyoroti lemahnya perlindungan hukum bagi pejabat struktural serta adanya praktik yang merugikan bawahan dalam dinamika politik birokrasi. “Betul, ini yang sering terjadi. Jika pejabat (pimpinan) kuat secara politik, cenderung akan mengorbankan bawahannya ketika ada kasus pelanggaran hukum. Ini yang semakin ditakuti oleh para ASN saat ini,” imbuhnya. Selain itu, Beliau mengkritisi sistem penempatan jabatan yang belum sepenuhnya berbasis kompetensi. “Yang terjadi saat ini kan banyak pejabat struktural itu dipilih dari sirkelnya, sehingga ini pun juga menjadi signal bahwa ASN yang berkompeten akan sulit dipilih. Kalau mau dipilih sebagai pejabat ya harus ikut berpolitik meskipun ASN tidak boleh berpolitik, tapi faktanya demikian. Bahkan kasus suap jual beli jabatan karena sistem ini seperti di Pekalongan dan Cilacap case terbaru,” terangnya. Beliau menegaskan perlunya talent management yang transparan dan penguatan kompetensi ASN sejak awal sebagai solusi sistemik.